Kisah Sadio Mane, Anak Dari Imam Masjid yang Sukses Bersama Liverpool

Kisah Sadio Mane, Anak Dari Imam Masjid yang Sukses Bersama Liverpool

Tak hanya soal Mohamed Salah yang sukses menjelma menjadi bintang lapangan hijau Liverpool, namun akan menjadi tidak seimbang ketika menghilangkan nama Sadio Mane dari sisi pemain bintang tersebut.

Sebelum nama Salah muncul, Mane sudah lebih dulu sukses memberikan keyakinan bahwa lini depan Liverpool sangat berbahaya. Terbukti catatan gol Mane di Liverpool sudah mencapai 40 gol lebih dari semua ajang dalam kurun waktu 2016/18.

Jika membandingkan Salah dengan Mane, maka tidak semuanya menghasilkan perbedaan. Ada satu hal yang sama dan itu sangatlah penting, dimana keduanya berasal dari benua Afrika dan juga seorang muslim yang taat.

Nama Mane sudah bisa disejajarkan dengan pemain-pemain terbaik Liverpool sejak sang pemain datang dari Southampton pada musim 2016 lalu. Dari pemain yang sebelumnya tidak dikenal, Mane kini menjadi salah satu penyerang top di kompetisi tertinggi sepakbola Inggris, Premier Legue.

Menariknya, tidak semua orang mengetahui jika Mane adalah anak dari seorang Imam Masjid di kota Senegal. Meski kini tinggal di sebuah kota besar di Inggris dan berhadapan dengan budaya yang berbeda, Mane terbilang sosok yang berpegang teguh pada pendiriannya.

Ketika seorang pemain beragama Islam mencoba beradaptasi dengan lingkungan dan budaya Eropa, Mane memilih untuk tetap berpegang pada keyakinan agamanya. Pembuktian pun diperlihatkan oleh Mane, dimana dalam waktu sesi wawancara.

Mane menyebut jika dirinya tidak akan pernah menyentuh alkohol yang memang diharamkan oleh agama Islam. Ia juga mengaku tetap melakukan salat lima waktu dimana pun berada baik sebelum bertanding maupun sesudah pertandingan.

“Saya tidak akan pernah menyentuh alkohol. Agama merupakan sesuatu yang penting bagi saya. Saya sangat menghormati aturan-aturan Islam, dan saya juga selalu salat lima waktu.” tegas jawaban Mane.

Menurut Mane, Islam merupakan bagian yang paling terpenting. Dalam kesempatan yang sama, Mane juga menyampaikan bahwa perbedaan keyakinan tidak akan menjadi penghalang atau pun jalan berat untuk bisa menggapai mimpinya sebagai pesepakbola profesional.

“Ketika Anda berada di Senegal, 90 persen beragama Islam, dan mungkin 10 persen sisanya beragama Kristen. Tapi kami bisa hidup berdampingan dengan harmonis,” lanjut Mane.

“Saya punya sahabat bernama Luke yang beragama Kristen dan kami sering mengunjungi rumah satu sama lain. Tidak ada pertentangan antara agama saya dan fakta bahwa saya kini bermain berkarir di dunia sepakbola.” Mane mengakhiri.

Aroma kekentalan Agama Islam begitu kuat dalam diri Mane, hal ini bisa dikatakan sangatlah wajar sebagaimana Mane merupakan putra seorang imam masjid di Bambali, sebuah kota kecil di Senegal. Dan baiknya bagi Mane adalah sang ayah tidak mempermasalahkan pilihan sang anak dan ternyata memberikan dukungan besar terhadap jalan Mane sebagai pesepakbola.

Satu hal yang paling tidak disuka sang ayah adalah ketika Mane mengikuti gaya hidup mewah dan foya-foya ala bintang sepakbola. Sejatinya, sang ayah sempat marah dan memberikan teguran keras kepada Mane soal gaya cat rambutnya.

Sadio Mane Sujud

Terlepas dari itu, sang ayah tetap merasa bangga atas apa yang sudah diraih Mane. Senegal patut memberikan penghormatan besar terhadap kinerja Mane dibenua Eropa, bahkan Mane adalah salah satu bintang penting dalam kesuksesan Senegal menembus Piala Dunia 2018 di Rusia.